Selasa, 27 Desember 2011

Wirausaha versi otak kanan dan otak kiri (Karyawan vs Entrepreneur)

Pembukaan

Setiap manusia adalah makhluk yang unik. Setiap orang punya cara tersendiri untuk meraih kemenangan. Jangan ada yang merasa paling benar, karena kebenaran absolute hanya milik Tuhan. Manusia hanya dihadapkan pada sebuah pilihan yang merupakan hak preogratif masing – masing dalam mengambil keputusan. Tentu hal tersebut akan dibarengi dengan konsekuensi yang harus ditanggung.

Saya memang belum menjadi seorang ahli di bidang ini, bahkan masih jauh dari sebutan wirausaha atau entrepreneur sukses. Walaupun begitu, melalui tulisan ini saya ingin bercerita pengalaman, inspirasi, pendapat pribadi dan segala hal tentang wirausaha versi saya kepada anda. Jadi bila ada kesamaan cerita atau apapun, ini bukan disebabkan adanya unsur kesengajaan tapi hanya kebetulan. Semoga menginspirasi

Dari literature yang sering saya baca, wirausaha berasal dari 2 kata yaitu wira dan usaha. Wira sendiri artinya pejuang, manusia unggul, seorang teladan. Usaha artinya berbuat, bekerja, beraktivitas, melakukan kegiatan. Jadi wirausaha dapat diartikan sebagai orang yang melakukan aktivitas dengan segala kemampuan yang ia miliki. Jadi menurut saya, karyawan pun dapat dikatagorikan sebagai wirausaha bila menggunakan pengertian diatas. Hanya saja, tetap ada perbedaan antara wirausaha karyawan dan wirausaha entrepreneur. Walaupun keduanya tetap penting dalam menunjang proses survive manusia dalam menjalani hidup.

Lalu, kenapa wirausaha dirasa penting. Karena bagi saya, berwirausaha memiliki cakupan tersendiri tentang kepuasan pribadi dimana ia mampu menciptakan kemandirian secara personal baik dalam hal finansial, pola pikir, perilaku dan lain – lain. Pertanyaan yang kemudian timbul, apakah hanya mereka yang berprofesi sebagai pedagang saja yang berhak menyebut dirinya wirausaha. Maka akan saya jawab : TIDAK. Sesuai dengan pengertian yang saya jabarkan di awal tadi, bahwa wirausaha memiliki arti yang luas, tidak hanya sebatas profesi.

Saya akan membatasi tulisan ini di area pola pikir. Saya yakin, sudah banyak tulisan dari peserta lomba artikel ini yang menuliskan tentang contoh teknis berupa ide bisnis dan lain sebagainya khususnya untuk mahasiswa. Saya juga akan menyebutkan contohnya diakhir tulisan saya, tetapi karena tema yang diusung adalah tentang wirausaha bagi mahasiswa, maka saya akan menambahkan beberapa hal tentang arti penting pola pikir dan mental yang harus dibangun seorang wirausaha agar bisa membedakan, mana wirausaha karyawan, mana wirausaha entrepreneur.

Semua pihak pasti setuju, bahwa seorang wirausaha pastilah memiliki visi dan tujuan yang jelas, mental / keinginan kuat, berani mengambil resiko, inovatif dan kreatif. Apalagi bila ditunjang dengan sikap disiplin, jujur dan berkomitmen, saya rasa kesuksesan hanya tinggal menunggu waktu. Sebab, mereka telah memiliki embrio untuk sukses sehingga hanya perlu konsistensi agar cita – cita yang diimpikan dapat terwujud. Pola pikir / paradigma inilah yang harus dibangun terlebih dahulu.

Yang harus anda kenali terlebih dahulu adalah diri anda sendiri. Setelah dirasa mampu mengontrol diri, maka tahap selanjutnya adalah kenali lingkungan dan medan. Jangan takut salah dalam belajar, karena dengan kesalahan, kita jadi tahu seperti apa hal yang benar itu. Inilah kesamaan sifat dari 2 macam golongan wirausaha tersebut, berani mengambil kegagalan, walaupun dengan kadar yang berbeda antara penggiat otak kiri dan otak kanan.

Biasanya untuk hal tersebut, para wirausaha otak kiri (karyawan) lebih mengedepankan aspek keamanan, jaminan pendapatan, dan resiko yang lebih save dibanding mereka yang mengambil jalan sebagai wirausaha otak kanan (entrepreneur). Dalam sudut pandang saya, seorang wirausaha otak kiri cenderung puas dengan Capital Gain sedangkan wirausaha entrepreneur lebih menggunakan pendekatan Cash Flow.

Capital Gain menurut bahasa akuntansi adalah selisih untung antara barang investasi yang dahulu dibeli dengan harga jual saat ini. Sedangkan untuk Cash Flow maksudnya aliran kas terus menerus bekerja. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Capital Gain dan Cash Flow bisa diibaratkan sebagai peternakan sapi. Capital Gain adalah sapi potong dan Cash Flow adalah sapi perah. Sama – sama peternakan sapi. Ada yang langsung jual dagingnya saja sehingga keuntungannya dapat segera terasa bersama dengan kembalinya modal (Capital Gain), ada juga yang hanya memerah susu sapi, tanpa berniat langsung menjual dagingnya, dan menanggu resiko sapi itu mati dimakan usia (Cash Flow).

Otak kiri vs otak kanan
Tahun 1810, Joseph Gall telah menemukan bahwa pusat pikiran dan perasaan berada di otak, bukan di hati (dalam arti sebenarnya) ataupun di jantung. Sejak 1930, para pakar meyakini bahwa otak kiri adalah otak rasional yang terkait dengan kecerdasan intelektual (IQ) sedangkan otak kanan adalah otak emosi yang berhubungan dengan kecerdasan emosional (EQ). Dan taukah anda, bahwa kreativitas terlahir di dalam otak kanan, kemampuan berkreasi hingga self motivated juga berasal dari sana. Menurut Thomas Friedman, seorang penulis yang dianugrahi penghargaan Pulitzer mengatakan, “Apabila anda ingin mengasah otak kanan anda, maka lakukanlah sesuatu yang anda cintai”. Biasanya, golongan kanan bekerja karena panggilan jiwa sedangkan golongan kiri bekerja karena panggilan kerja.

Ketika Pendidikan Dipertanyakan
Tragisnya, pendidikan konvensional yang sedang dan sudah kita lewati mulai dari Sekolah dasar hingga perkuliahan selalu dan terlalu memanjakan dan mengasah otak kiri (intelektualitas). Silahkan anda tengok kembali bila tidak percaya, berapa persen pelajaran kewirausahaan dibanding total semua pelajaran. Tidak sampai 20 persen, maka tak jarang lulusannya hanya berorientasi pada keinginan kaum otak kiri yaitu karyawan. Dan para kaum minoritas otak kanan kadang seringkali berfikiran berbeda 180 derajat dengan kaum otak kanan. Mereka terbiasa menggunakan kreativitas, imajinasi, intuisi dan implusif dalam bekerja yang sering di cap sinting atau gila oleh kaum mayoritas.

Konfusius pernah berkata, sebuah gambar lebih bermakna daripada 1000 kata. Albert enstein berpendapat bahwa imajinasi lebih berharga daripada ilmu pengetahuan. Dari kedua pakar itu saja dapat disimpulkan bahwa imajinasi dan kreativitas lebih baik ketimbang kebiasaan yang dilakukan mayoritas orang. Maka jangan heran, keajaiban sering dihasilkan oleh mereka yang berfikir hal yang bagi kebanyakan orang mustahil dilakukan. Siapa sangka, Enstein berhasil menemukan rumus atom (e=mc2). Mark Zukenberg memiliki gagasan ingin mengalirkan informasi ke seluruh dunia, akhirnya terciptalah facebook atau Bill Gates yang lebih memilih men-DO-kan diri dari Harvard demi mewujudkan impiannya.

Siapa bilang Golongan otak kanan itu miskin
Sudah banyak contoh individu yang menginspirasikan kita, bahwa pola pikir mengedepankan otak kanan dengan dikombinasikan sifat – sifat pemenang (disiplin, integritas, kompeten, ulet) pasti bisa menghasilkan kemakmuran. Dan tidak ada jaminan 100 % setelah lulus kuliah, ada pekerjaan yang kita idam – idamkan dapat diperoleh. Tapi saya berani jamin, bila anda menjadi wirausaha otak kanan (entrepreneur) anda akan senantiasa menikmati dan mencintai pekerjaan anda. Karena anda melakukan hal tersebut atas dasar kesadaran dalam memilih tujuan dan pilihan pekerjaan.

Silahkan anda membuat list orang terkaya di dunia, siapa di urutan pertama. Pengusaha pastinya, bukan karyawan. Ada istilah menarik mengenai istilah golongan otak kanan (entrepreneur) yaitu right yang berasal dari terjemahan kata kanan dalam bahasa inggris. Makna right dalam arti lainnya bisa berarti benar, dan left (kiri) bisa diartikan ketinggalan. Percaya tidak percaya, silahkan buka kamus anda. Jadi, mengapa masih berfikir dua kali untuk memilih bergabung dengan golongan otak kanan.

Golongan kanan dalam menghasilkan (cocok untuk mahasiswa): Silaturahmi
Seperti yang telah saya sampaikan diatas, golongan otak kanan senantiasa menggunakan kreativitas, intuisi dan imajinasi yang dikombinasikan dengan kebiasaan sukses. Berikut adalah tips sukses dari mentor saya yang juga telah sebagian saya kerjakan manakala mewujudkan kemandirian finansial saat menjadi mahasiswa menggunakan jalan golongan otak kanan –The way of the right man-

  1. Menulis dan ikut lomba – lomba penulisan. Tentunya kita harus bergabung dalam sebuah komunitas atau organisasi karena biasanya panitia penyelenggara menyampaikan informasi tersebut lewat organisasi. Dan saya setuju, organisasi dapat meningkatkan kemampuan otak kanan (softskill) kita yang tidak diajarkan di kelas.
  2. Bergabung atau membuat lembaga bimbingan belajar. Inilah salah satu keutamaan silaturahmi yang saya dapatkan di organisasi, dimana kita terbiasa menghadapi banyak orang. Dan masalah mengajar, pada dasarnya, kita semua mampu.
  3. Makelar. Ini cara mudah, yaitu dengan mempertemukan 2 pihak yang saling membutuhkan. Kekuatan jaringan dan sensitivitas menangkap informasi sangat dibutuhkan disini. Jadi, beruntunglah mereka yang senantiasa menjaga silaturahmi dengan orang lain. Bisa memakelari fotokopi, hape, jasa hingga tanah. Semua bisa asal ada kemauan dari kita.
  4. Bangun kerajaan bisnis. Setelah kita malang melintang sehingga berpengalaman, kita bisa membuat proposal dan mengajak beberapa rekan yang siap berkontribusi mewujudkan cita – cita bersama. Secara tidak langsung, impian kita akan terwujud sekaligus membuka lapangan kerja baru. Dan lagi – lagi, tanpa silaturahmi, sepertinya hal ini mustahil.

Nb : Artikel ini dibuat untuk mengikuti Lomba Battle of Article HMJ Akuntansi FE UNS 2011
(Alhamdulillah, jadi juara I, Check aja di www.hmjafeuns.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More